fbpx

Digital Light Processing, Teknik 3D Printing dari Tahun 1987

Digital Light Processing, Teknik 3D Printing dari Tahun 1987

Digital Light Processing, Teknik 3D Printing dari Tahun 1987

Teknologi cetak 3 dimensi atau yang dikenal juga dengan istilah manufaktur aditif berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Teknologi ini mengurangi berbagai kerugian dalam industri manufaktur seperti pembubutan, pemotongan dan lain sebagainya. Di antara sekian banyak jenisnya, Digital Light Processing adalah salah satu teknik 3D printing yang perlu Anda ketahui jika Anda tertarik pada industri manufaktur aditif.

Digital Light Processing atau DLP sering disebut sebagai saudara dekat dari metode stereolithography atau SLA. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai DLP, simak pembahasannya berikut ini!

 

 

Definisi Digital Light Processing (DLP)

Ilustrasi mesin cetak 3d yang menggunakan teknologi digital light processing

Teknologi DLP ditemukan pertama kali pada tahun 1987 oleh Texas Instruments, tak lama setelah kemunculan teknologi SLA. Texas Instruments sendiri merupakan yang pertama membuat rangkaian pemrosesan cahaya digital sebagai inti dari metode pencetakan 3D DLP. Sejak itu, teknologi ini terus mengalami perkembangan dan kemajuan.

Pencetakan DLP 3D dikenal juga sebagai teknik polimerisasi tong. Alih-alih menggunakan termoplastik seperti yang dipakai dalam metode Fusion Deposition Model, DLP mengimplementasikan resin termoseting cair untuk membuat lapisan demi lapisan bagian objek yang akan dicetak.

Proses DLP mengarahkan tong resin cair ini ke cahaya berintensitas tinggi dari proyektor yang kemudian secara selektif melakukan curing resin ke platform pembuatan dalam proses lapis demi lapis. Proses DLP memproyeksikan seluruh lapisan model 3D sekaligus, kemudian meng-curing setiap titiknya pada waktu yang sama.

Mesin cetak 3 dimensi dengan metode Digital Light Processing bisa ditemukan dalam 2 tipe pengaturan yakni mencetak bagian secara terbalik (dikenal sebagai bottom-up printing) atau dari sisi kanan ke atas (dikenal sebagai top-down printing). Desain bottom-up umumnya digunakan pada printer DLP desktop karena bisa memaksimalkan volume build.

Sementara itu desain top-down umumnya digunakan dalam aplikasi industri yang lebih besar. Tapi pada dasarnya keduanya sama-sama menggunakan proses DLP. Hanya konfigurasinya saja yang terbalik.

Banyak orang yang bingung membedakan antara SLA dengan DLP karena keduanya sangat mirip dari segi bentuk dan fungsinya. Printer DLP berbeda karena tidak meng-curing resin dengan laser yang terkontrol. Tetapi dengan proyeksi seluruh lapisan sekaligus. Proyeksi digital mengurangi resolusi bagian, tetapi pada akhirnya mengurangi waktu pembuatan objek.

Meski seringkali dianggap sama, baik DLP maupun SLA merupakan metode cetak 3 dimensi yang berbeda dan memiliki keunikan tersendiri. Memahami tentang bagaimana cara kerja keduanya, akan membantu Anda mengetahui perbedaan antara DLP dengan SLA.

 

 

Bagaimana Cara Kerja Digital Light Processing?

Proses DLP diselesaikan melalui penggunaan mesin cetak 3D. Printer ini menggunakan file .stl atau file CAD yang dipotong menjadi beberapa lapisan untuk persiapan pencetakan dengan perangkat lunak. Persiapan ini disebut dengan slicing yang akan memudahkan printer menerjemahkan desain 3D ke dalam wujud nyata.

Platform pembuatan printer terendam dalam tong resin cair sementara sumber cahaya digital memproyeksikan setiap lapisan ke atasnya. Cahaya menyebabkan resin mengeras di atas platform, menciptakan satu lapisan yang solid. Selanjutnya, lapisan berikutnya akan ditempatkan di atas lapisan pertama yang sudah berada di platform. Begitulah proses berulang sampai semua lapisan objek tercetak sempurna.

Metode DLP banyak digunakan karena akurasi dan resolusinya yang bagus. Jenis cetakan ini berguna untuk membuat berbagai bentuk yang sulit dilakukan dengan printer lain. meskipun begitu, hasil cetak DLP biasanya tidak dipakai untuk membuat prototipe fungsional karena sifat mekanik bagian resin yang cenderung tidak kuat.

 

 

Keunggulan dan Batasan dalam Penggunaan Digital Light Processing

Printer DLP adalah pilihan yang sangat baik untuk pencetakan 3 dimensi. Dalam beberapa kasus, DLP bahkan bisa mengalahkan berbagai metode lain termasuk SLA yang merupakan teknik cetak 3D tertua yang pernah ada. Meskipun demikian, DLP tetap memiliki sejumlah keterbatasan.

Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode DLP untuk cetak 3 dimensi, simak ulasannya berikut ini!

 

Kelebihan Metode Digital Light Processing

  • Hasil cetak dengan menggunakan DLP sangat akurat dan memiliki permukaan akhir yang bagus jika dibandingkan dengan jenis printer lainnya. Permukaannya juga bisa dipoles lagi untuk memperoleh tampilan estetika yang lebih baik
  • Meskipun tidak berbeda jauh, printer DLP biasanya membutuhkan waktu kerja yang lebih singkat dibanding SLA karena proyeksi lapisan yang seragam
  • DLP menggunakan bahan khusus seperti resin transparan. Ini membuatnya berbeda dibanding mesin cetak 3 dimensi lainnya
  • Printer DLP desktop atau bottom-up sangat terjangkau dan bersifat plug-and-play sehingga konfigurasinya dengan perangkat komputer lebih mudah
  • Bagian-bagian dalam printer DLP bersifat isotropik (memiliki bagian yang sama kuat di semua bidang baik X, Y maupun Z), ini tidak dimiliki oleh suku cadang printer FDM. Selain itu, komponen DLP 100% kedap air dan umumnya tidak reaktif terhadap apapun selain cahaya.

 

Kekurangan Metode Digital Light Processing

Selain berbagai kelebihan di atas, DLP juga memiliki sejumlah keterbatasan yakni:

  • DLP kurang cocok dipakai untuk mencetak komponen prototipe fungsional. Karena materialnya yang rapuh, Anda hanya bisa menggunakannya untuk membuat prototipe yang sifatnya visual
  • Sinar matahari bisa merusak tampilan dan sifat mekanik resin. Artinya hasil cetakan dengan DLP tidak bisa digunakan untuk aplikasi luar ruangan
  • Secara umum, printer DLP memiliki pilihan material atau filamen yang lebih sedikit dibanding teknologi pencetakan 3 dimensi lainnya. Meskipun bisa saja dalam beberapa tahun ke depan, Anda akan menemukan lebih banyak pilihan material
  • Meskipun memiliki akurasi yang lebih baik daripada FDM, printer DLP menghasilkan objek dengan permukaan kasar yang harus dihaluskan jika menginginkan hasil cetak sehalus SLA
  • Ada jenis printer DLP khusus yang bisa digunakan untuk membuat komponen metal yang disinter. Ini bisa mengurangi kebutuhan bahan baku untuk pembuatan komponen sehingga biaya bisa ditekan menjadi lebih rendah.

 

 

Contoh Aplikasi Digital Light Processing dalam Industri

Printer dengan teknologi DLP telah berkembang sangat pesat dan digunakan dalam banyak sektor industri sejak pertama kali ditemukan pada akhir 1980-an. Belakangan, aplikasinya pun terus bertambah. Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi DLP dalam berbagai sektor industri.

 

  • Model atau cetakan gigi khusus
  • Peralatan medis dan perlengkapan custom untuk pasien
  • Gips dan cetakan untuk membuat perhiasan
  • Salinan master untuk pengecoran vakum
  • Prototipe fungsional dengan daya tahan rendah dan prototipe visual
  • Bagian otomotif
  • Patung, figurin, kostum dan berbagai perlengkapan untuk set film.

 

Selain beberapa contoh aplikasi di atas, masih banyak lagi aplikasi lain yang mungkin akan Anda temukan di pasaran.

Itulah ulasan singkat mengenai Digital Light Processing. Dengan mengetahui cara kerja, kelebihan, kekurangan serta contoh aplikasinya, Anda bisa memutuskan apakah metode ini cocok dengan bisnis yang Anda jalankan atau tidak. Semoga informasi dalam artikel ini bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *