fbpx

Fungsi Sparepart 3D Print, Atasi Tantangan di Industri Sparepart

Fungsi Sparepart 3D Print, Atasi Tantangan di Industri Sparepart

Fungsi Sparepart 3D Print, Atasi Tantangan di Industri Sparepart

Kehadiran teknologi memudahkan pekerjaan dan aktivitas manusia, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun berkaitan dengan bisnis. Salah satu teknologi yang semakin populer pada masa sekarang adalah 3D printing. Berbeda dengan printer biasa, printer 3D dapat mencetak benda padat dari format digital.

Sparepart 3D print merupakan alternatif solusi yang membantu produsen dan pemasok menyediakan suku cadang dan mengelolanya secara seimbang antara biaya produksi, waktu tunggu, dan jumlah stok yang harus ada. Seperti diketahui, ketiga hal ini menjadi tantangan di dunia industri sparepart.

 

 

Apa Itu 3D Printing?

3D printing merujuk pada proses penyimpanan, penggabungan, dan pemadatan material di bawah kendali komputer untuk membuat objek tiga dimensi. Material seperti plastik, cairan, atau butiran bubuk tersebut ditambahkan bersama-sama selapis demi selapis.

Teknik dan tujuan penggunaan 3D printing berkembang seiring waktu. Pada tahun 1980-an, orang menggunakan 3D printing untuk memproduksi prototipe fungsional dan estetika. Pada 2019, jangkauan bahan, presisi, dan pengulangan 3D printing telah meningkat sehingga istilah yang tepat untuk menyebutnya adalah teknologi produksi industri. 

Keunggulan 3D printing adalah menghasilkan bentuk yang kompleks yang tidak mungkin dibuat secara manual dengan tangan. Saat ini, model cetak 3D bisa dibuat dengan dukungan computer-aided design (CAD), pemindai 3D, kamera digital dan software digital photogrammetry

Menggunakan metode CAD, risiko kesalahan relatif lebih sedikit dan dapat diidentifikasi atau diperbaiki sebelum proses mencetak. Inilah alasan yang membuat teknik sparepart 3D print menjadi opsi terbaik untuk memproduksi suku cadang.

 

 

Tantangan yang Dihadapi Produsen Sparepart

Ilustrasi bagian dalam dari pabrik di bidang sparepart 3d print

Produsen sparepart menghadapi sejumlah tantangan sejak dahulu hingga saat ini, salah satunya terkait dengan biaya produksi. Dalam metode produksi tradisional, perusahaan melakukan produksi dalam jumlah yang banyak. Tujuannya untuk mengurangi biaya total per bagian dengan cara mengamortisasi biaya tetap seperti biaya pembuatan alat.

Masalahnya, produk sparepart jarang diproduksi dalam volume yang besar. Selain karena risiko biaya penyimpanan, jumlah permintaan pun tidak selalu banyak dan sebagian bersifat spesifik. Hal ini membuat perusahaan memproduksi sparepart dalam volume kecil yang memicu biaya total produksi lebih tinggi.

Tantangan lainnya adalah waktu tunggu yang lama. Untuk mendapatkan sparepart yang tepat kemudian dipasangkan pada alat yang digunakan, butuh waktu yang tergolong lama. Padahal, dalam beberapa kasus, kebutuhan sparepart bersifat urgen dan harus segera digunakan.

Produsen juga sering kali mengalami kesulitan dalam menentukan jumlah sparepart yang harus dibuat. Pasalnya, jika produk tersebut hanya disimpan di gudang, biaya pemeliharaan tidak murah.

Karena berbagai tantangan ini, produsen maupun pemasok sering kali memilih untuk berhenti menyediakan sparepart. Pengguna akhirnya harus membeli produk atau alat yang baru walaupun yang lama masih dapat digunakan apabila sparepart diperbaiki.

 

 

Keunggulan 3D Printing Sebagai Solusi di Industri Sparepart

Dengan kehadiran teknologi 3D printing, berbagai tantangan terkait industri sparepart 3D print dapat diatasi. Teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan yang dapat dimaksimalkan oleh produsen. Apa saja di antaranya?

 

  • Produksi Sedikit, Biaya Ekonomis

Sparepart 3D print memungkinkan produsen atau pemasok suku cadang melakukan produksi dengan biaya yang lebih ekonomis walaupun bukan dalam volume yang banyak. Hal ini karena proses produksi 3D printing bersifat otomatis dan tidak memerlukan peralatan yang mahal. 

3D printing berbeda dengan manufaktur tradisional yang perlu melalui proses pencetakan injeksi dan pembentukan vakum. Perusahaan harus menyediakan berbagai peralatan yang kemudian digunakan untuk mencetak dalam jumlah besar. Dengan 3D printing, biaya tetap lebih rendah sehingga perusahaan tetap untung walaupun memproduksi dalam jumlah sedikit.

 

  • Produksi Sesuai Permintaan

Banyaknya stok yang belum terjual di gudang dan menyedot biaya pemeliharaan bisa diatasi dengan teknologi 3D printing. Perusahaan hanya perlu memiliki inventaris digital. Dalam inventaris tersebut, perusahaan dapat menyimpan model sparepart 3D print, termasuk berbagai jenis sparepart dengan permintaan rendah.

Dengan memiliki model tersebut dalam inventaris digital, perusahaan dapat memproduksi sparepart sewaktu-waktu ketika dibutuhkan. Dalam inventaris tersebut, perusahaan juga bisa mendesain ulang sparepart yang tersedia sesuai dengan kebutuhan.

Apabila ada konsumen yang memesan sparepart tersebut, produsen hanya perlu mencarinya di inventaris digital, kemudian mengirim desain ke printer 3D. Dalam beberapa jam atau hari, produk tersebut sudah tersedia. Teknologi ini akan meningkatkan kemampuan perusahaan memenuhi permintaan tepat waktu.

 

  • Waktu Produksi Lebih Cepat

Proses produksi sparepart pada manufaktur tradisional tidak singkat. Perusahaan harus merancang dan membuat alat serta mempersiapkan jalur produksi. Proses tersebut membutuhkan waktu hingga hitungan bulan.

Kemampuan pemindaian 3D juga memungkinkan penciptaan model digital sparepart dalam waktu cepat. Hal ini terutama bisa dilakukan pada suku cadang usang yang perlu diganti. Hasil pemindaian bisa didesain ulang sesuai kebutuhan terkini sebelum kemudian dicetak melalui printer 3D dengan alur yang praktis.

Dengan mengoptimalkan kemampuan teknologi sparepart 3D print, pemasok dan produsen bisa lebih fleksibel dan lincah dalam mengembangkan bisnis di industri sparepart.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *