Mengenal Berbagai Jenis Filamen yang Cocok untuk 3D Printing

Mengenal Berbagai Jenis Filamen yang Cocok untuk 3D Printing

Mengenal Berbagai Jenis Filamen yang Cocok untuk 3D Printing

Dalam beberapa tahun terakhir, trend print 3D terus mengalami perkembangan. Tren ini diikuti juga dengan pembuatan berbagai jenis mesin mulai dari yang kecil hingga yang besar. Selain itu perkembangan bahan untuk print 3D atau filamen juga sangat besar sehingga pemilik printer 3D harus memahaminya.

Filamen yang menjadi bahan untuk membentuk model 3D ternyata jenisnya ada banyak. Tidak hanya satu jenis saja, bahkan lebih dari lima. Saat ini jenis filamen untuk 3D printing ini memang didominasi oleh jenis plastik dan turunannya.

Setiap bahan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Untuk bisa memilih jenis filamen yang tepat, simak beberapa jenisnya di bawah ini.

 

1. ABS (Acetonitrile Butadiene Styrene)

Acetonitrile Butadiene Styrene atau ABS adalah salah satu bahan yang banyak digunakan untuk filamen mesin printer 3D. Pemilihan bahan ini bukan tanpa alasan, pertama karena stabil dengan suhu dan paparan kimia. Selanjutnya sangat kuat dan mudah dirapikan dengan penguapan aseton.

Kekurangan dari bahan ABS ini adalah tidak bisa diuraikan secara alami karena merupakan plastik sintetis. Selanjutnya saat printing dilakukan akan ada asap berbahaya yang digunakan. ABS butuh suhu tinggi sehingga daya yang dipakai juga besar.

 

2. PLA (Polylactic acid)

Bahan PLA termasuk yang mulai naik daun dan digunakan oleh banyak pelaku dan penggiat 3D print. Alasan penggunaan PLA adalah bahan bakunya yang alami sehingga akan terurai kalau dibuang ke tanah. Secara harga produk ini cenderung murah dan membutuhkan daya rendah untuk pencairan.

Karena tidak membutuhkan suhu tinggi, bantalan untuk mesin tidak diperlukan lagi. Kemungkinan membakar benda di sekitarnya juga rendah. Kekurangan dari bahan PLA hanyalah mudah meleleh, apalagi di suhu yang sangat tinggi. Hindari terkena sinar matahari agar bentuk model tidak berantakan.

 

3. HIPS (High Impact Polystyrene)

HIPS juga cukup bisa diandalkan karena memiliki beberapa kelebihan seperti kekuatan bahan yang sangat tinggi. Selain itu bahan HIPS ini juga fleksibel meski sangat kuat dibandingkan jenis lainnya. Bahan HIPS ini juga merupakan alternatif dari ABS yang memiliki kekurangan pada asap berbahaya yang dikeluarkan.

Suhu yang digunakan untuk melakukan pencetakan atau printing cukup tinggi dan butuh bantalan di bawahnya. Serat yang digunakan sebagai filamen juga rawan patah dan juga ruwet kalau tidak ditata dengan baik. Terakhir, kalau mendapatkan suhu tinggi, model 3D yang dihasilkan akan mudah lembek.

 

4. Nylon

Bahan nylon juga sangat diandalkan untuk membuat model 3D. Alasan penggunaan bahan nylon tidak lain dan tidak bukan adalah masalah kekuatan. Selama ini nylon banyak digunakan untuk tekstil karena kekuatannya yang sempurna. Kalau diaplikasikan pada model 3D, kemungkinan cepat leleh akan rendah.

Selain itu stabilitas pada suhu panas juga cukup stabil dan mudah diwarnai sesuai dengan kebutuhan. Barangkali kekurangan dari bahan nylon adalah butuh suhu tinggi untuk melelehkannya sebelum diaplikasikan menjadi bentuk tertentu. Selain itu nylon juga mudah bengkok dan rawan ruwet sehingga proses cetak jadi terhambat.

 

5. PVA (Polyvinyl Alcohol)

Filamen yang terbuat dari bahan PVA merupakan bahan organik dan bisa diuraikan dengan mudah. Kalau ada sisa atau residu bisa dibuang ke tanah tanpa memicu pencemaran seperti plastik. Meski bahannya organik, model 3D yang dihasilkan tahan dengan berbagai pelarut dan juga minyak.

Bahan PVA juga mudah sekali larut dalam air sehingga tidak merugikan atau meracuni penggunanya. Kalau Anda ingin menggunakan bahan PVA ada baiknya menjauhkan bahan ini dari panah yang berlebihan dan kelembaban tinggi. Selain itu pertimbangkan masalah biaya meningkat produk ini cukup mahal.

 

6. PETG (Glycol-modified Polyethylene Terephthalate)

Menggunakan bahan PETG akan memberikan cukup banyak kelebihan. Beberapa kelebihan itu adalah kekuatannya yang sangat tinggi dan stabil dengan suhu tinggi. Produk ini juga tahan dengan paparan bahan kimia tertentu. Singkatnya model 3D yang dihasilkan dari produk ni akan awet digunakan.

Sayangnya bahan PETG ini tidak user friendly alias susah digunakan. Jangan gunakan bahan ini kalau beberapa produk sebelumnya masih ada. Selanjutnya kalau berada di bawah sinar ultraviolet, produk yang dihasilkan akan mudah rusak meski tahan pada suhu yang tinggi.

 

7. TPU (Thermoplastic Polyurethane)

Bahan TPU memiliki fleksibilitas seperti karet sehingga tidak mudah patah. Filamen dengan bahan ini juga cocok untuk membuat lapisan-lapisan tertentu pada model 3D yang sedang dihasilkan. Produk juga tahan dengan minyak.

TPU mudah sekali menggumpal meski masih dalam bentuk filamen. Karena mudah menggumpal, kemungkinan terjadi masalah pengoperasian akan besar. Terakhir bahan TPU ini sulit sekali dipoles kalau tidak sempurna karena secara tekstur seperti karet.

 

8. ASA (Acrylonitrile Styrene Acrylate)

Filamen dengan bahan ASA sama halnya dengan ABS yang terbuat dari plastik. Bahan ini memiliki kelebihan berupa resistensi dengan suhu tinggi, sinar ultraviolet, hingga paparan zat kimia. Proses penguapan aseton juga bisa digunakan untuk proses finishing agar permukaan tidak kasar.

Hal yang disayangkan dari bahan ASA ini adalah kekuatannya yang rendah, butuh printer dengan suhu tinggi, dan mudah menggumpal. Selain itu, bahan isian print 3D ini juga mahal.

 

Inilah beberapa jenis filamen yang digunakan sebagai bahan utama isian dari 3D printing. Dari penjelasan di atas terlihat dengan sangat jelas kalau masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Pilih jenis filamen terbaik seperti jenis PLA. Semoga ulasan di atas bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *