Menilik Kembali Sejarah 3D Printing Dunia

Menilik Kembali Sejarah 3D Printing Dunia

Menilik Kembali Sejarah 3D Printing Dunia

Meskipun baru mulai ramai diperbincangkan selama beberapa tahun terakhir, teknologi cetak 3 dimensi sebenarnya sudah lama ada. Jika ditilik kembali, sejarah 3D printing sudah berusia lebih dari 40 tahun. Untuk lebih memahami bagaimana perkembangannya, mari simak timeline perjalanan teknologi manufaktur aditif berikut ini!

 

Penemuan Awal, Tahun 1981-1984

Sejarah 3D printing pertama dimulai pada tahun 1981 saat Dr. Hideo Kodama asal Jepang yang mematenkan sebuah alat untuk membuat prototipe. Sejauh yang diketahui, Dr. Kodama adalah orang pertama yang mengajukan paten dalam sistem penyemburan resin dengan teknologi laser. Sayangnya, pengajuan paten dari dokter asal Jepang ini tidak pernah berhasil. Karena masalah pendanaan, Dr. Kodama tidak bisa menyelesaikan prosesnya dalam waktu setahun.

Meski begitu, gagasan untuk membuat prototipe secara cepat tidak lantas berhenti begitu saja. Ada 3 orang asal Prancis yang mencoba mengembangkan kembali ide tersebut. Ketiga orang itu adalah Jean-Claude André, Olivier de Witte, dan Alain le Méhauté. Mereka bertiga mencoba mengajukan paten pada tahun 1984. Namun lagi-lagi karena masalah pendanaan, ide tersebut kembali ditinggalkan.

 

Ditemukannya Stereolitografi, Tahun 1984-1988

Tahun 1984 bisa dikatakan sebagai masa keemasan bagi teknologi cetak 3 dimensi. Hal ini dimulai dari rasa frustasi yang dialami oleh Charles ‘Chuck’ Hull saat dia bekerja untuk sebuah perusahaan furnitur. Dia mengeluhkan proses yang lama dalam pembuatan bagian-bagian kecil dalam produksi furnitur. Dari sinilah dia menemukan metode pembentukan lapis demi lapis resin yang kita kenal dengan cetak 3D saat ini.

Hull kemudian diberi fasilitas sendiri oleh perusahaan untuk menyelesaikan proyek ini. Hanya dalam waktu 3 minggu setelah tim Prancis mengajukan paten mereka, Hull muncul dengan teknologinya sendiri: stereolitografi yang masih kita gunakan sampai sekarang.

Paten untuk stereolitografi dikeluarkan pada tahun 1986, dan di tahun yang sama Hull mendirikan perusahaannya sendiri di Valencia, California yang masih eksis sampai sekarang, 3D Systems. Mereka merilis produk komersial pertamanya, SLA-1 pada tahun 1988.

Saat ini, 3D Systems menjadi salah satu perusahaan pencetak 3 dimensi terbesar dan tentu saja salah satu pemimpin pasar untuk inovasi 3D printing.

 

Era Inovasi, Tahun 1988-1992

Paten Hull untuk stereolitografi menandai awal dari sejarah 3D printing. Namun setelahnya masih ada banyak teknologi baru yang berkembang. Beberapa di antaranya adalah:

SLS

Pada tahun 1988, tahun yang sama ketika SLA-1 diperkenalkan, teknologi cetak 3 dimensi lainnya ditemukan. Namanya adalah Selective Laser Sintering (SLS), yang patennya diajukan oleh Carl Deckard, seorang sarjana di University of Texas.

Mesin pertama yang dibuat Deckard adalah printer 3D SLS yang diberi nama Betsy. Printer ini hanya dapat menghasilkan potongan plastik sederhana. Namun karena tujuannya hanya untuk pengujian, detail objek dan kualitas cetak bukan prioritas.

FDM

Saat teknologi SLS sedang menunggu persetujuan paten, paten lain dalam teknologi manufaktur aditif juga diajukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Teknologi baru ini diberi nama Fused Deposition Modelling atau FDM. Menariknya, meskipun saat ini jadi yang paling sederhana dari teknologi sebelumnya, FDM sebenarnya diciptakan setelah SLA dan SLS.

Paten FDM diajukan oleh Scott Crump yang dikenal sebagai salah satu pendiri Stratasys. Dibentuk pada tahun 1989, perusahaan yang berbasis di Minnesota ini adalah salah satu pemimpin pasar untuk printer 3D dengan presisi tinggi.

Pada tahun 1992, paten untuk FDM akhirnya dikeluarkan untuk Stratasys yang menandai dimulainya perkembangan teknologi cetak 3 dimensi secara intens. Salah satu industri awal yang mengambil manfaat dari teknologi ini di awal tahun 1990-an adalah dunia kedokteran.

 

Meski banyak yang beranggapan bahwa 3D printing adalah teknologi baru, nyatanya ketiga teknologi yang mendasarinya justru ditemukan pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Meskipun selanjutnya banyak penemuan baru yang lahir, tapi tidak ada yang bisa eksis tanpa ketiga teknologi dasar ini.

 

Revolusi The RepRap, Tahun 2004

Adrian Bowyer, seorang dosen senior di bidang teknik mesin dari University of Bath, Inggris menemukan proyek RepRap yang memungkinkan sebuah mesin printer 3D mencetak sebagian besar komponennya sendiri. Dengan begitu, teknologi ini dapat disebarluaskan secara lebih cepat dengan memungkinkan pemilik mesin cetak, mencetak mesin lainnya untuk dibagikan kepada kerabatnya dan teman-temannya yang lain.

 

3D Printing on Demand

Karena belum banyak orang yang memiliki mesin cetak sendiri di rumah, beberapa perusahaan penyedia layanan cetak berdasarkan permintaan mulai muncul (3D printing on demand). Ini memungkinkan siapa saja yang memiliki desain 3 dimensi untuk mewujudkan model buatannya dalam bentuk nyata.

Beberapa perusahaan yang menyediakan jasa 3D printing on demand antara lain adalah Shapeways (berbasis di Belanda). Perusahaan ini kemudian menyebarkan layanannya hingga ke Amerika Serikat dan mendapatkan pendanaan.

Tahun 2008 menandai sejarah baru dalam gebrakan yang dibuat oleh teknologi cetak 3 dimensi ini. Di tahun inilah kaki palsu pertama dibuat dengan menggunakan mesin printer 3D. Saat ini tak terhitung banyaknya jumlah orang yang terbantu dengan adanya kaki palsu cetakan 3 dimensi ini.

Sejarah 3D printing memang masih terus berlanjut hingga saat ini. Berbagai sektor industri pun beramai-ramai mulai memanfaatkan teknologi ini. Beberapa di antaranya adalah industri kesehatan, otomotif hingga properti. Para pehobi yang khusus menggunakan teknologi cetak 3 dimensi pun terus bermunculan. Ini tentu saja menjadi lahan bisnis baru yang menguntungkan bagi para pengusaha 3D printing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *