Perkembangan 3D Printing untuk Pembangunan Properti

Perkembangan 3D Printing untuk Pembangunan Properti

Perkembangan 3D Printing untuk Pembangunan Properti

Meski ada banyak aspek dalam kehidupan kita yang berubah, namun industri konstruksi ternyata tidak mengalami perkembangan berarti. Kecuali munculnya proyek mega konstruksi, gedung pencakar langit yang lebih tinggi hingga jembatan yang lebih kokoh. Namun, satu hal yang tampaknya akan segera merevolusi industri pembangunan properti: perkembangan 3D printing.

Selama 20 tahun terakhir, teknologi pencetakan 3 dimensi hanya menjadi ranah laboratorium untuk pengujian. Namun saat ini banyak orang yang berusaha memanfaatkannya untuk sesuatu yang lebih besar. Salah satu yang tengah banyak dilirik untuk dikembangkan adalah bagaimana aplikasinya untuk pembangunan gedung secara langsung.

Dubai bisa dikatakan sebagai negara pertama yang menggunakan teknologi 3D printing untuk konstruksi bangunan. Negara kaya di Uni Emirat Arab berencana membangun seperempat dari seluruh bangunan barunya dengan menggunakan teknologi ini pada tahun 2030 mendatang. Emaar, salah satu pengembang properti terkemuka di  Teluk Arab sedang menggembar-gemborkan proyek perumahan Arabian Ranches II sebagai tempat tinggal pertama di Dubai yang akan dibangun dengan metode cetak 3 dimensi.

 

Bagaimana Cara Kerja Cetak 3D dalam Pekerjaan Konstruksi?

Konstruksi adalah proses yang kompleks, apalagi untuk dibangun dengan menggunakan teknologi cetak 3 dimensi. Sejauh ini baru ada 20 bangunan komersial di seluruh dunia yang dibuat dengan  cetak 3 dimensi.  Gedung pertama dibangun pada tahun 2017 lalu di Kopenhagen, Denmark oleh COBOD International.

Untuk membuat lapisan demi lapisan material gedung, beton diperas dari nosel yang terpasang pada lengan robot yang sudah diprogram dengan komputer. Mesin bisa berada dalam posisi diam di tempat atau berjalan di sepanjang rel. Sembari bergerak, lapis demi lapis struktur bangunan akan dibentuk. Mulai dari bagian eksterior hingga interiornya.

Dengan berbagai berbagai rekor konstruksi yang dipegangnya, Dubai sangat ambisius dalam misinya. Salah satu yang menjadi kebanggan mereka adalah sebuah kantor laboratorium drone yang dicetak dengan mesin printer 3D telah dibangun di negara tersebut. Kantor yang dibuat dengan teknologi cetak 3 dimensi pertama di dunia itu konon hanya menelan biaya $140.000 saja untuk pembangunannya.

Para pendukung teknologi cetak 3 dimensi mengklaim bahwa teknologi ini menawarkan proses pembangunan properti yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan dibanding metode konvensional. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh teknologi antara lain adalah fleksibilitas desain, pengurangan biaya konstruksi, penggunaan bahan yang lebih efisien serta tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi. Limbah sisa konstruksi pun bisa dikurangi termasuk polusi suara yang dihasilkan.

Selain itu, teknologi cetak 3 dimensi juga menjanjikan berbagai keuntungan lain yakni:

  • Pembangunan global. Dengan otomatisasi dan mekanisasi yang semakin canggih, bisa menurunkan harga. Teknologi cetak 3 dimensi adalah cara yang terjangkau untuk menciptakan perumahan bagi kaum miskin yang memerlukan tempat tinggal memadai
  • Perencanaan proyek yang lebih baik. Bagian yang penting dalam setiap proyek adalah desain. Dengan cetak 3 dimensi, perusahaan dapat dengan cepat dan murah untuk membuat model visual proyek serta menghindari masalah dalam proses pembangunan
  • Lebih efisien dalam pemenuhan ekspektasi klien. Dengan pencetakan 3 dimensi, para pekerja profesional konstruksi dapat berkomunikasi lebih efisien dengan para klien. Ide pembangunan dapat tergambar jelas sehingga para klien yang bahkan tidak paham arsitektur juga bisa mengerti. Teknologi ini dapat menyingkirkan presentasi desain dengan pensil dan kertas yang sudah ketinggalan zaman.

Contoh Proyek Konstruksi yang Dibangun dengan Teknologi Cetak 3 Dimensi

Pembangunan properti dengan menggunakan mesin cetak 3 dimensi sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Pada Mei 2014, sebuah proyek di Belanda menyelesaikan sebuah rumah yang dibuat dengan teknologi 3D printing secara penuh.

Pada bulan selanjutnya, perusahaan asal Cina, Qingdao Unique Products Develop Co meluncurkan printer 3D terbesar di dunia pada Konferensi dan Pameran Industri Teknologi Pencetakan 3D Dunia di Qingdao. Proyek pertama yang mereka buat adalah sebuah kuil setinggi 7 meter.

Di Spanyol, jembatan penyeberangan pertama yang dibuat dengan teknologi 3D diresmikan pada 14 Desember 2016. Jembatan ini dikembangkan oleh ACCIONA yang bertanggung jawab atas desain struktural, pengembangan bahan hingga pembuatan elemen cetakan 3D. Jembatan ini memiliki total panjang 12 meter dengan lebar 1,75 meter dan dicetak dengan beton bertulang mikro.

Printer 3D juga digunakan untuk mencetak sebuah jembatan yang diproduksi oleh D-Shape. Jembatan ini berhasil mencerminkan kompleksitas yang mampu mengoptimalkan distribusi bahan serta memaksimalkan kinerja struktural. Ini menjadi langkah penting untuk menghemat material.

Jembatan Alcobendas yang dibangun dengan cetak 3 dimensi juga menjadi tonggak sejarah dalam sektor konstruksi dunia. Proyek ini menjadi teknologi cetak 3 dimensi terbesar pertama yang dilakukan di bidang teknik sipil dalam pembangunan ruang publik.

Di antara sekian banyak potensinya, perkembangan 3D printing mungkin tidak akan mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil dalam industri konstruksi atau menghilangkan human error dalam pembangunan. Tapi bisa dipastikan bahwa teknologi ini menghadirkan peluang yang menjanjikan bagi para pekerja industri konstruksi. Selain lebih ramah lingkungan dan lebih hemat biaya, cetak 3 dimensi juga menjanjikan margin yang cukup besar.

Hingga saat ini, penelitian dan perkembangan 3D printing terus berkembang. Ada banyak hal yang perlu dinantikan untuk melihat bagaimana aplikasi teknologi ini akan memengaruhi industri pembangunan properti secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *